Aksi unjuk rasa yang awalnya berlangsung damai di depan Balai Kota Jakarta berubah menjadi kericuhan pada Selasa sore (21/5). Ratusan demonstran yang menuntut transparansi kebijakan pemerintah mulai mendorong barikade dan melemparkan botol air serta batu ke arah aparat kepolisian yang berjaga.
Polisi yang bertugas langsung mengambil langkah pengamanan dengan memperingatkan massa untuk mundur. Namun, situasi semakin tak terkendali ketika sekelompok orang yang tidak dikenal memprovokasi kerumunan. Akibat bentrokan itu, beberapa anggota kepolisian mengalami luka ringan akibat lemparan benda keras. Tim medis yang bersiaga langsung memberikan pertolongan pertama di lokasi.
Petugas kepolisian kemudian mengamankan 93 orang yang diduga menjadi pemicu utama kericuhan. Mereka langsung dibawa ke Mapolda Metro Jaya untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut. Polisi juga menyita sejumlah barang bukti, seperti batu, spanduk berisi provokasi, dan alat komunikasi.
Kapolres Metro Jakarta Pusat, Kombes Pol Susatyo Purnomo Condro, menegaskan bahwa pihaknya akan bertindak tegas terhadap siapa pun yang terbukti melanggar hukum. “Kami menghormati hak medusa 88 berpendapat, tapi kami tidak akan mentolerir tindakan anarkis yang membahayakan ketertiban umum,” ujarnya.
Sementara itu, arus lalu lintas di sekitar Balai Kota sempat dialihkan selama dua jam, menyebabkan kemacetan di sejumlah ruas jalan. Hingga malam hari, situasi berangsur kondusif, dan petugas terus berjaga untuk mencegah kericuhan susulan.
Peristiwa ini menjadi peringatan bahwa kebebasan menyampaikan pendapat tetap harus berjalan dalam koridor hukum dan tanggung jawab bersama.